Kita pasti sering banget ya refleks scrolling media sosial malam-malam, terus tiba-tiba dada berasa sesak cuma gara-gara ngeliat postingan teman sebaya yang baru beli rumah, naik jabatan, atau liburan ke luar negeri? Seketika itu juga, pikiran kita langsung ramai. Kita mulai membandingkan hidup, nyeselin pilihan masa lalu, sampai mikir, "Kok hidup gue gini-gini aja ya?"
Buat kita para perempuan di rentang usia 20-an sampai 40-an, urusan protecting my peace alias menjaga ketenangan jiwa rasanya mirip kayak ngejar pelangi: kelihatan indah dari jauh, tapi susah banget ditangkap.
Padahal, protecting my peace itu bukan berarti hidup kita harus sempurna tanpa masalah. Prinsip ini adalah tentang bagaimana kita berhenti "berperang" sama pikiran sendiri, berani pasang benteng dari hal-hal yang toxic, dan memeluk proses hidup tanpa harus selalu menuntut segalanya berjalan sesuai rencana.
Jebakan FOMO dan Comparison Trap yang Tiada Henti
Tantangan terbesar perempuan modern hari ini adalah gempuran informasi yang enggak ada habisnya. Layar HP kita setiap hari menyajikan highlight reel kehidupan orang lain—momen-momen terbaik yang sudah dikurasi dengan rapi. Tanpa sadar, kita menjadikan standar orang lain sebagai patokan kesuksesan diri sendiri.
Di usia 20-an, kita sering panik karena merasa tertinggal secara karier atau jodoh. Masuk usia 30-an dan 40-an, tekanannya berubah jadi tuntutan peran: harus jadi ibu yang sempurna, istri yang ideal, atau wanita karier yang cemerlang tanpa boleh kelihatan lelah. Perbandingan yang terus-menerus ini bikin kedamaian mental kita gampang banget goyah.
Penyesalan Masa Lalu dan Inner Child yang Belum Sembuh
Selain godaan dari luar, musuh terbesar dalam upaya protecting my peace sering kali datang dari dalam diri kita sendiri. Kita sering terjebak dalam penyesalan atas keputusan masa lalu. "Coba dulu gue ambil peluang itu," atau "Kenapa sih dulu gue bertahan di hubungan yang salah?"
Belum lagi kalau ada trauma atau luka pengasuhan masa kecil (inner child) yang belum usai. Ketika ada masalah baru yang datang, luka lama ini gampang banget terpelintir kembali. Akibatnya, kita sering merespons situasi sulit dengan rasa bersalah yang berlebihan atau justru menyalahkan diri sendiri secara terus-menerus.
Terjebak dalam 'Lingkaran Setan' Masa-Masa Terpuruk
Saat hidup lagi di bawah, masalah rasanya enggak datang satu-satu, tapi merembet ke mana-mana. Kondisi ini sering bikin kita terjebak dalam vicious cycle alias lingkaran setan. Ketika pikiran stres, energi kita terkuras, bikin kita sulit berpikir jernih dan ambil keputusan yang tepat. Keputusan yang kurang pas ini lalu memicu masalah baru, yang bikin kita makin terpuruk dan benci sama diri sendiri.
Keluar dari lingkaran ini memang enggak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, langkah pertamanya adalah menyadari bahwa merasa tidak baik-baik saja itu wajar. Kamu tidak gagal sebagai manusia hanya karena saat ini sedang lelah dan butuh waktu untuk menata ulang pikiranmu.
Peluk Diri Sendiri Sebelum Melangkah Lagi
Menjaga ketenangan jiwa itu sebuah perjalanan panjang yang butuh keberanian buat bilang "cukup". Mengakui bahwa kita sedang terluka atau merasa iri adalah tanda jujur bahwa kita manusia biasa.
Artikel Terkait
Hubungan Tidak Sempurna atau Toxic? Yuk, Kenali Bedanya!