Pernah enggak sih, pas lagi scrolling media sosial malam-malam, kamu melihat postingan teman yang masih rapat jam 10 malam dengan caption “No days off” atau “Rise and grind”? Seketika, ada rasa bersalah yang menusuk.
Kita merasa jadi perempuan paling malas sedunia hanya karena jam 9 malam sudah rebahan cantik sambil maskeran setelah seharian beraktivitas. Selamat datang di era hustle culture, sebuah gaya hidup modern di mana kita merasa nilai diri kita sepenuhnya ditentukan oleh seberapa sibuknya kita setiap hari.
Apa Sih Sebenarnya Hustle Culture Itu?
Sederhananya, hustle culture adalah sebuah obsesi untuk terus bekerja keras dan meminimalkan waktu istirahat demi mencapai kesuksesan secepat mungkin. Di dalam budaya ini, kesibukan yang tiada henti dianggap sebagai sesuatu yang keren, dan rasa lelah yang amat sangat justru dipandang sebagai sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.
Kita perlahan dipaksa percaya bahwa kalau kita belum sampai mengorbankan waktu tidur dan kesehatan, artinya kita belum berusaha maksimal untuk masa depan kita.
Sisi Gelap yang Mengintai Kesehatan Kita
Awalnya, hustle culture memang terasa sangat memotivasi karena membuat kita merasa produktif dan penuh ambisi. Namun, ada harga mahal yang harus kita bayar ketika tubuh dan pikiran dipaksa untuk terus bekerja tanpa henti.
Dampak paling nyata adalah burnout, sebuah kondisi di mana kita merasa lelah luar biasa secara fisik, mental, dan emosional hingga akhirnya kehilangan motivasi untuk melakukan apa pun. Tidak jarang, stres yang menumpuk ini juga berujung pada siklus menstruasi yang berantakan, masalah asam lambung, hingga gangguan tidur kronis.
Kehilangan Hubungan Nyata dengan Sekitar
Selain merusak kesehatan fisik, obsesi pada kerja keras ini lambat laun akan menjauhkan kita dari orang-orang tersayang. Saat pikiran kita selalu tertuju pada deadline dan target karier, kita mulai kehilangan waktu berharga untuk mengobrol dengan keluarga, bersenang-senang dengan sahabat, atau bahkan sekadar menikmati me-time.
Sukses itu tentu saja penting, tapi apa gunanya pencapaian karier yang berkilau kalau pada akhirnya kita harus menikmatinya dalam kondisi kesepian dan tubuh yang drop? Yuk, kita mulai bedakan mana ambisi yang sehat dan mana ambisi yang merusak diri sendiri. (S)
Artikel Terkait
Quiet Ambition, Saat Sukses Karier Enggak Lagi Harus Workaholic