Selasa, 11 Agustus 2026

Trik Elegan Menghadapi Microaggressions di Kantor Tanpa Bikin Mentally Exhausted

Photo Author
Redaksi Sheera, SheeraMedia.com
- Sabtu, 8 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Keep calm untuk hadapi microaggresions di kantor. (Pexels)
Keep calm untuk hadapi microaggresions di kantor. (Pexels)

Kita mungkin sering nemuin momen di mana ada rekan kerja atau atasan yang melontarkan kalimat "bercanda" tapi bikin hati mengkerut? Misalnya kalimat semacam, "Wah, tumben pulang tenggo, mau kencan ya?" atau "Keren banget presentasinya, pantesan makin disayang bos." Kalimat-kalimat kecil yang terkesan sepele tapi rasanya nusuk dan meremehkan ini biasa dikenal dengan sebutan microaggressions.

Sebagai perempuan di dunia kerja, menghadapi komentar underestimating seperti ini sering bikin kita berada di serba salah. Mau bales marah nanti dibilang baperan atau terlalu emosional, tapi kalau cuma diam malah makin membatin dan merusak mental health.

Nah, biar energi kita enggak habis cuma buat mikirin omongan orang, ada beberapa cara elegan buat meresponsnya dengan tetap profesional sekaligus menjaga kedamaian pikiran.

Pahami Bahwa Itu Bukan Tentang Kualitas Dirimu

Langkah pertama yang paling krusial adalah memasang "tameng" pikiran. Saat seseorang melontarkan microaggressions, ingatlah bahwa sikap atau perkataan mereka sebenarnya mencerminkan insecurity, bias, atau keterbatasan cara pandang mereka sendiri—bukan tentang kualitas atau performa kerjamu.

Ketika ada yang menyindir pencapaianmu hanya karena faktor keberuntungan atau penampilan, usahakan untuk tidak langsung memasukannya ke dalam hati secara personal. Memisahkan antara opini bias orang lain dengan kenyataan nilai dirimu akan sangat membantu mencegah burnout emosional di tempat kerja.

Pakai Teknik Pertanyaan Pembalik (The Reverse Question)

Daripada terpancing emosi atau malah minta maaf, salah satu respons paling elegan untuk menanggapi komentar menyindir adalah dengan melemparkan kembali pertanyaan secara tenang. Teknik ini memaksa si pembuat komentar untuk menjelaskan maksud tersembunyi dari ucapannya sendiri.

Contohnya, saat ada yang bilang, "Kamu yakin bisa handle project gede ini? Biasanya kan cewek gampang stres," kamu bisa merespons sambil tersenyum tipis: "Maksudnya gimana ya? Boleh dijelasin bagian mana dari project ini yang kira-kira kurang sesuai sama kapasitas saya?" Biasanya, orang yang suka melempar microaggressions bakal langsung mati gaya dan salah tingkah saat diminta menjelaskan candaan atau asumsi mereka secara logis.

Tetapkan Batasan Tegas Tanpa Perlu Drama

Menjaga mental health bukan berarti kita harus selalu mengalah dan menelan semuanya bulat-bulat. Kamu berhak menetapkan boundaries yang jelas agar orang lain paham cara memperlakukanmu secara profesional.

Jika komentar yang dilontarkan sudah mulai berulang dan melewati batas, kamu bisa bicara empat mata secara santai namun tegas. Gunakan formula kalimat "I statement", misalnya: "Aku menghargai candaannya, tapi jujur aku kurang nyaman kalau topik produktivitas kerjaku dibercandain kayak gitu. Nanti orang lain bisa salah paham." Penyampaian yang tenang tanpa nada tinggi akan membuatmu terlihat sangat matang dan memegang kontrol penuh atas situasi.

Bangun Support System dan Dokumentasikan Bila Perlu

Menghadapi lingkungan kerja yang kurang suportif sendirian memang sangat menguras energi. Itulah kenapa penting banget buat punya work bestie atau komunitas luar kantor yang bisa jadi tempat venting yang aman. Berbagi cerita dengan orang yang tepat bikin kita merasa didengar dan enggak merasa berjuang sendirian.

Halaman:

Editor: Ovi S. Sobirin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X