she-grows

Sadar Enggak? Ini Ragam Hustle Culture Berkedok “Women Empowerment” yang Sering Menjebak Perempuan

Senin, 3 Agustus 2026 | 23:58 WIB
Terlalu sibuk sama dengan sangat berdaya? (Pexels)

Sebagai perempuan di usia 20-40 tahun, tuntutan hidup yang kita hadapi sehari-hari memang luar biasa besar. Di satu sisi, kita ingin menjadi sosok independent woman yang kariernya meroket dan mandiri secara finansial. Di sisi lain, ada ekspektasi sosial yang tidak tertulis agar kita tetap menjadi sosok yang hangat dan perhatian di rumah. Akhirnya, tanpa kita sadari, kita sering kali terjebak dalam pusaran hustle culture yang terbungkus rapi dalam narasi keren tentang pemberdayaan perempuan.

Terjebak dalam Sindrom Multitasking Queen

Salah satu bentuk jebakan yang paling sering kita alami adalah kebanggaan semu saat menjadi multitasking queen. Kita merasa hebat ketika bisa membalas email pekerjaan sambil memasak, atau mengikuti meeting penting sambil mengurus keperluan rumah tangga.

Padahal, melakukan banyak hal rumit dalam satu waktu justru menurunkan fokus dan membuat otak kita bekerja dua kali lebih keras. Kita membebani diri sendiri dengan ekspektasi bahwa seorang perempuan hebat harus bisa menyelesaikan segala hal sendirian tanpa cela.

Rasa Bersalah yang Muncul Saat Beristirahat

Pernahkah kamu mencoba untuk netflix and chill di akhir pekan, tapi pikiranmu malah melayang memikirkan pekerjaan yang belum selesai atau urusan rumah yang menumpuk? Rasa bersalah yang muncul saat kita tidak melakukan apa-apa adalah tanda nyata bahwa pikiran kita telah teracuni oleh hustle culture.

Kita menjadi takut tertinggal dan mengalami fear of missing out atau FOMO saat melihat pencapaian perempuan lain di media sosial, sehingga kita terus memaksa diri mengambil pekerjaan sampingan tanpa mengukur kapasitas diri.

Dampak Nyata pada Keseimbangan Hidup

Jika kebiasaan mengabaikan sinyal lelah dari tubuh ini terus berlanjut, kita akan kehilangan work-life balance yang sangat kita butuhkan. Tuntutan untuk selalu tampil sempurna di kantor dan di rumah hanya akan menyisakan ruang stres yang besar dalam keseharian kita.

Menjadi perempuan yang mandiri dan berdaya bukan berarti kita harus mengorbankan kebahagiaan dan kesehatan kita sendiri. Kita tidak perlu menjadi superwoman setiap saat, karena mengenali batas kemampuan diri dan berani beristirahat adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri. (S)

Tags

Terkini