Saat kamu merasa hari itu capek banget karena urusan pekerjaan yang menumpuk, lalu secara tidak sadar kamu membuka aplikasi e-commerce dan checkout barang-barang yang sebenarnya enggak terlalu kamu butuhkan? Atau mungkin, kamu mendadak beli kopi kekinian mahal dan makanan aesthetic hanya demi mendapatkan hiburan instan?
Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending atau yang sering kita sebut retail therapy. Di tengah padatnya ritme kehidupan urban, belanja sering kali menjadi pelarian paling cepat untuk meredakan rasa cemas, lelah, dan stress. Rasanya ada kepuasan tersendiri saat menekan tombol "Bayar", kan?
Kenapa Kita Suka Doom Spending Saat Stress?
Secara psikologis, fenomena doom spending terjadi bukan semata-mata karena kita boros atau enggak bisa mengatur keuangan. Ketika kita merasa cemas akan masa depan—baik itu soal karier, ketidakpastian ekonomi, maupun urusan personal—otak kita mencari cara cepat untuk melepaskan hormon dopamine yang memicu rasa bahagia.
Sensasi memegang barang baru atau sekadar menunggu paket datang memberikan rasa kendali sementara atas hidup kita. Sayangnya, kebahagiaan dari doom spending ini sifatnya sangat singkat. Setelah euforia belanja mereda, biasanya muncul rasa bersalah (shopper’s remorse) karena melihat saldo rekening yang mendadak menipis. Kalau dibiarkan berlarut-larut, kebiasaan ini tentu bisa mengganggu kesehatan finansial harian kita.
Cara Ampuh Mengatasi Doom Spending Tanpa Mengorbankan Kebahagiaan
Tenang saja, kamu enggak perlu merasa bersalah berlebihan. Mengendalikan kebiasaan ini bukan berarti kita sama sekali enggak boleh menikmati hasil jerih payah sendiri. Langkah utamanya adalah mengenali trigger atau pemicunya, lalu mengalihkan luapan emosi ke hal yang lebih sehat.
Berikut adalah beberapa tips praktis yang bisa kita terapkan bersama:
-
Gunakan Aturan Pause 24 Jam
Saat kamu merasa tergiur untuk membeli sesuatu di luar rencana—terutama saat suasana hati sedang buruk—coba tahan diri dan masukkan barang tersebut ke dalam keranjang (cart) terlebih dahulu. Berikan jeda waktu minimal 24 jam. Biasanya, setelah emosi kamu lebih tenang dan stabil, keinginan impulsif untuk membeli barang tersebut bakal berkurang drastis.
-
Hapus Metode Pembayaran Instan
Kemudahan fitur one-click payment atau dompet digital memang sangat memanjakan kita. Untuk memberikan batas tambahan, cobalah untuk tidak menyimpan informasi kartu kredit atau dompet digital secara otomatis di aplikasi belanja online. Jeda waktu yang kamu butuhkan untuk mengetik ulang nomor kartu bisa memberi kesempatan bagi otakmu untuk berpikir ulang secara lebih rasional.
-
Alokasikan Anggaran khusus Self-Care
Menahan semua keinginan belanja secara ekstrem justru bisa membuat kita makin tertekan dan akhirnya revenge spending. Solusi terbaiknya adalah dengan mengalokasikan anggaran khusus hiburan atau guilt-free spending setiap bulannya. Kamu bebas menggunakan uang ini untuk apa saja tanpa rasa bersalah, asalkan pos anggaran utama untuk tabungan dan kebutuhan pokok sudah terpenuhi.
-
Cari Alternatif Stress Release yang Bebas Biaya
Ketika kamu mulai merasa emosi tidak stabil atau cemas, cobalah untuk mengalihkan perhatian ke aktivitas lain yang tetap menyenangkan tetapi ramah di kantong. Kamu bisa jalan sore di taman kota, mendengarkan podcast favorit, berolahraga, atau sekadar berbincang dengan sahabat terdekat. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa sebenarnya tidak selalu harus dibeli dengan uang.
Tags
Terkini
Bukan Selingkuh Finansial, Ini Alasan Istri Harus Punya Rekening Sendiri
Minggu, 9 Agustus 2026 | 07:00 WIB Trik Kelola Gaji UMR Biar Tabungan Aman Tanpa Siksa Diri
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 06:41 WIB Trik Gen Z Lepas Status Sandwich Generation
Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:00 WIB Dompet Aman, Teman Nyaman: Trik Tolak Nongkrong Mahal Tanpa FOMO
Sabtu, 1 Agustus 2026 | 17:14 WIB Doom Spending, Kenali Bahaya dan Cara Mengatasinya
Jumat, 31 Juli 2026 | 15:10 WIB
Artikel Terkait
Quiet Ambition, Saat Sukses Karier Enggak Lagi Harus Workaholic